Home
»
Akademik
»
Cerpen
»
Hukum Perkawinan
»
Hukum Wakaf
»
Hukum Waris
» Tentang Seorang Yang Membunuh Keadilan di Penjaga Konstitusi (Cerpen Kompas)
Tentang Seorang Yang Membunuh Keadilan di Penjaga Konstitusi (Cerpen Kompas)
Posted by: Unknown Posted date: 12.46 / comment : 0
MALAM itu
tampak lebih kelam, suram, dan padam tidak seperti biasa. Bukan karena gelap
dan dingin malam, tetapi karena wajahnya tertunduk lesu, pucat pasi dengan
tangan terikat dan lolongan anjing-anjing yang begitu memaki selalu meneriaki.
Laki-laki paruh baya itu mendatangi gedung itu.
Tentu tidak sendiri, beserta para penjaga yang memborgol kedua tangannya.
Mendatangi gedung itu berarti mendatangi sebuah masa depan yang lebih buruk.
Masa depan di jeruji besi. Bisa dikatakan begitu.
Kemudian para wartawan berdatangan di bawah
sinar bulan mencari kepastian berita. Mencari bau-bau busuk yang bisa mereka
tulis dan laporkan di koran-koran dan televisi mereka. Dengan cahaya yang
sedikit temaram mereka menghampiri gedung itu. Mencoba untuk masuk. Kata-kata
memaksa membuat satpam penjaga itu mengizinkan. Di lobi saja katanya…
Gila, aku memang bersalah Tuhan. Ampuni aku. Aku
akan mencoba untuk melawan. Tidak mau aku diperlakukan seperti ini. Aku adalah
seorang yang paling mulia. Mereka menyebutku Yang Mulia. Tidak mungkin aku
diperlakukan terhina seperti ini. Aku akan melawan demi membela kesombonganku.
Suara mikrofon itu terdengar. Kamera-kamera
telah siap menatap dengan tajam sosok yang akan berbicara di meja itu. Seorang
juru bicara yang setiap saat menjadi penyambung lidah keingintahuan akan
keadilan. ”…malam ini telah tertangkap tangan seorang pejabat negara…diduga
karena menerima suap untuk meloloskan gugatan Pilkada…”
Esok kemudian mereka membacanya di koran kota,
di halaman pertama. Mereka juga menonton di televisi-televisi mereka. Menjadi
berita utama dan terus berulang-ulang disaksikan. Ada seorang yang telah rela
menggadaikan masa depannya. Menggadaikan bangsanya. Menggadaikan keluarganya,
anak-anaknya, dan mendustai sumpah jabatannya. Akan tetapi, ia tidak menangis
entah mengapa. Ia juga masih merasa tidak bersalah entah mengapa. Dan ia juga
tidak meminta maaf entah mengapa terhadap semua hal yang dikhianatinya.
Semakin lama semakin ramai mereka
membicarakannya. Seakan-akan masih tidak percaya dengan apa yang sudah terjadi.
Memang, uang, kekuasaan dan kekuatan akan terasa panas di tangan jika tidak
berada di tangan orang-orang yang benar. Begitu aku sering mendengar.
Rumah kediamannya dihampiri oleh para pencari
berita, mereka mencoba mencari tahu dan menerka-nerka berapa sebenarnya harta
kekayaannya. Dari kota hingga desa. Dari yang biasa disinggahi sampai
rumah-rumah di kampung halaman. Tidak ketinggalan pula semua usaha-usahanya
diliput, dicari tahu sumber dananya dan berapa penghasilan sebenarnya. Dan dari
semua itu hanya ada satu kalimat. Sangat tidak wajar dengan penghasilan yang
didapat.
Berita pun semakin memanas karena ditemukan pula
dua buah linting narkoba jenis baru yang sangat jarang beredar berada di ruang
kerjanya. Punya siapakah itu? Semua orang jelas ingin tahu. Jangan-jangan Yang
Mulia Yang Terhormat ini sedang teler ketika memimpin sidang.
Saya dijebak Tuan Penyidik. Uang itu bukan milik
saya. Ada orang yang membawakannya. Sungguh saya tidak bersalah. Saya dijebak.
Saya dijebak. Saya dijebak. Ada yang ingin menghancurkan nama baik saya. Ini
adalah sebuah konspirasi besar. Saya akan membuktikan bahwa saya tidak
bersalah.
Hari itu. Kita berangkat bersama. Melalui
pesawat yang sama. Singapura tujuan kita. Bukan karena kebetulan kita berada di
pesawat yang sama. Bukan juga karena kebetulan kita berada di hotel yang sama.
Bertemu kamu hari itu. Hari digadaikan martabat sebuah pengadilan dengan sekarung
janji dan uang. Tentu bukan untuk hari yang pertama kali. Lewat kawan lama,
semua negosiasi menjadi mudah. Hati kecil ini menolak dengan tegas. Akan tetapi
perlahan dengan pasti janji manis mengalahkan semuanya. Uang memang bisa
membeli segala-galanya.
Istriku, aku sudah selesai berobat di Singapura.
Sopirku yang menemaniku di sana. Dia memang sangat setia kepadaku. Selalu
menemaniku. Tentu saja sebagai orang kepercayaanku dia yang kujadikan orang
pertama untuk menerima uang-uang itu. Sedangkan aku, hanya duduk diam dan manis
saja menikmati semua yang kudapat dengan cara kotor itu. Istriku. Andai kau
tahu ini. Mungkin saja kau akan pergi meninggalkanku. Maafkan aku istriku.
Hari ini sudah kukabulkan permintaan kalian.
Persidangan sudah aku tutup. Sekarang nikmati kemenangan kalian. Tapi ingatlah,
kemenangan kalian berkat jasaku. Jangan lupakan itu. Camkan. Aku tunggu semua
yang kalian janjikan. Dan ingat hanya kita dan Tuhan yang mengetahui semua ini.
Satu per satu keluarganya datang. Istri, anak
dan saudara-saudara yang lain. Mereka menjenguk ke dalam teralis besi itu.
Raut-raut wajah kecewa menyelimuti mereka. Ingin memaki tetapi ayah sendiri.
Ingin memaki tetapi suami sendiri. Ingin memaki tetapi keluarga sendiri. Tetapi
mereka tidak ingin memaki seorang yang sudah tepat berada di depan mereka.
Karena mereka sadar, bukan makian yang ia butuhkan. Hanya sedikit rasa iba,
belas kasihan dan sedikit kepercayaan untuk menemaninya di jeruji besi itu.
Selain itu, karena mereka sadar bahwa sosok yang selama ini menjadi kebanggaan
mereka sudah setiap hari dicaci dan dimaki akibat peristiwa memalukan dan
memilukan ini.
Istriku, ingin rasanya kuseka air matamu.
Kuhapuskan kepedihanmu. Anakku. Ingin rasanya kukatakan bahwa aku tetap ayahmu.
Dan buat kau bangga memiliki ayah seperti aku. Tapi aku malu melakukannya. Aku
malu mengatakannya. Diriku telah menjadi aib bagi kalian. Tak pantas aku
rasanya meminta maaf karena kesalahanku yang begitu besar.
Mereka hanya terdiam. Tanpa kata. Hati mereka
menangis. Tatapan mereka kosong. Ada kata yang tak terucap, ada sedih yang tak
terungkap, ada benci dan amarah yang tak mungkin terluap. Seakan-akan terjebak
dalam sebuah lubang yang dalam. Mereka berusaha keluar dari suasana ini tetapi
mereka tidak mampu memulai dari mana untuk mencairkan suasana.
Sebuah kamera menatapnya dengan tajam, wartawan
itu bertanya-tanya dengan nada yang tegas dengan tujuan mendapatkan sebuah
jawaban. Tetapi laki-laki paruh baya itu tidak menjawab. Malah ia marah.
Mukanya memerah. Marah karena tak mau menjawab, sangat terusik dengan
pertanyaan wartawan atau marah karena malu terhadap dirinya sendiri. Lalu,
laki-laki itu mendorong kamera itu. Merusak kameranya dan menampar wartawan
itu. Lagi-lagi ada cerita baru yang akan dibahas di koran dan televisi tentang
Yang Mulia Terhormat ini.
Lalu, pengacara laki-laki paruh baya itu menjadi
perantara. Sering muncul di televisi-televisi dan berita di koran-koran kota.
Berusaha meluruskan cerita. Berusaha menjadi perantara laki-laki Yang Mulia
Terhormat ini. Pengacara itu berkata seperti hari-hari sebelumnya. Kliennya
tidak bersalah. Ia juga berkata bahwa kliennya dijebak. Tak luput ia juga
meminta maaf kepada wartawan yang ditampar oleh kliennya. Semua pembicaraannya
dan bantahannya menolak dengan tegas semua tuduhan yang dituduhkan kepada
kliennya.
Sekarang, laki-laki paruh baya itu sudah
mengundurkan diri. Mengundurkan diri sebelum ia diberhentikan dengan tidak
hormat. Berusaha berbuat bijak untuk mengurangi rasa malu. Padahal seharusnya
berbuat bijaklah ia untuk tidak menerima sesuatu bentuk apapun dari orang-orang
yang terlibat atau berperkara dengannya di meja persidangan.
Satu-per satu yang terlibat dengan peristiwa ini
diperiksa oleh penyidik. Beberapa menjadi saksi, dan beberapa pula ada yang
ikut ditangkap juga untuk menemani di jeruji besi. Satu-per satu pula
kroni-kroni dan antek-antek mafia peradilan ini yang berusaha menghalalkan
segala cara untuk menguasai dan memenangi segala bentuk sengketa pemilu muncul
di media massa. Terliput mobil-mobil mewah mereka. Entah datangnya dari mana.
Mungkin dari korupsi di daerah yang telah mereka kuasai. Bukan mungkin akan
tetapi pasti dari sana. Karena korupsi mereka kaya dan semakin kaya.
Hari ini mahkamah itu rusuh, sekelompok orang
sudah tidak percaya dengan pengadilan yang dinamakan gerbang terakhir
konstitusi atau penjaga terakhir konstitusi. Peristiwa ini, baru pertama kali
terjadi. Entah mereka sengaja, terencana atau tidak. Mereka merusak meja-meja
itu, mereka teriak-teriak meminta keadilan di gedung itu. Merusak berbagai
properti di ruangan itu. Pengeras suara dibanting, dihancurkan dan
polisi-polisi hanya melihat bingung harus berbuat apa.
Ada amarah di mata mereka, amarah yang mungkin
saja tertuju kepada seorang yang telah membunuh keadilan di penjaga konstitusi.
Hak-hak mereka merasa dicabut, kemenangan mereka serasa dirampas. Rasa keadilan
sudah tidak mereka rasakan di negeri ini.
Di balik itu semua, ada segerombolan anak kecil
di sudut-sudut kota, mereka tidur tanpa alas, mereka tidur tanpa memiliki atap,
mereka meminta-minta di jalan-jalan kota. Mereka sedang tidak mengerti dengan
yang terjadi di negeri ini. Mereka juga tidak perduli. Mereka hanya memikirkan
rasa lapar yang terus berlomba-lomba di dalam perut mereka. Silih berganti.
Di sudut kota yang lain, ada pedagang-pedagang
yang mencari rezeki dengan halal karena sudah tidak adanya lapangan pekerjaan
untuk mereka. Mereka berusaha sendiri, dengan modal dari dengkul dan lutut
mereka. Berjualan pun mereka harus berlari-lari dikejar-kejar oleh para petugas
pamong praja. Para petugas itu membawa pentungan, dan berteriak dengan keras.
Sangat keras. Seperti menghadapi pencuri yang sedang mencuri nasi. Akan tetapi
tidak terlihat teriakan petugas pamong praja itu saat menghadapi terpidana
korupsi yang masih bisa menyunggingkan senyum-senyum mereka dan melambaikan
tangan-tangan mereka kepada para wartawan dan kamera yang sedang berada di
depannya.
Di sudut gemerlap remang-remang kota, ada waria
yang menjajakan dirinya. Entah terpaksa atau tidak karena himpitan ekonomi atau
karena kebutuhan seksual mereka. Dan sekarang di desa, ada pak tani yang
terlilit rentenir untuk menghidupi keluarganya dengan harapan bisa dibayar saat
panen. Hidup mereka berputar di situ-situ saja. Tanpa impian dan
khayalan-khayalan yang terlalu muluk. Pak tani hanya ingin membahagiakan
keluarganya.
Laki-laki itu lupa atau pura-pura lupa.
Laki-laki itu tuli atau pura-pura tuli laki-laki paruh baya Yang Mulia
Terhormat. Apakah ia tidak melihat di sekitarnya. Tidak melihat di
sekelilingnya. Tidak bisa merasakan kesusahan dan jerih payah yang dirasakan
oleh masyarakat yang kurang beruntung di negeri ini. Masih banyak
kegundahan-kegundahan lain di negeri ini di bangsa ini.
Tabik, aku lelah menceritakan tentang seorang
yang membunuh keadilan di gerbang konstitusi. Ingatlah cerita ini bukan tentang
seseorang, melainkan seorang. Semoga kalian tahu perbedaannya. Tuhan berikanlah
cahaya-Mu di negeri ini.
saya copas di lakonhidup
About Unknown
This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
«
Next
This is the most recent post.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Comments
Popular Posts
-
Hukum Acara perdata (Hukum perdata formil) adalah Peraturan hukum utk mempertahankan berlakunya hukum perdata materiil, terutama apab...
-
Cerpen Iksaka Banu ( Media Indonesia , 30 Maret 2014) …di dalam sana di atas tikar, aku segera tertidur dan tidak tahu apa mimpiku....
-
Huruf Arab Nama Huruf Latin Nama ا alif tidak dilambangkan tidak ...
-
MALAM itu tampak lebih kelam, suram, dan padam tidak seperti biasa. Bukan karena gelap dan dingin malam, tetapi karena wajahnya tertun...
.jpg)
Tidak ada komentar: