MALAM itu
tampak lebih kelam, suram, dan padam tidak seperti biasa. Bukan karena gelap
dan dingin malam, tetapi karena wajahnya tertunduk lesu, pucat pasi dengan
tangan terikat dan lolongan anjing-anjing yang begitu memaki selalu meneriaki.
Laki-laki paruh baya itu mendatangi gedung itu.
Tentu tidak sendiri, beserta para penjaga yang memborgol kedua tangannya.
Mendatangi gedung itu berarti mendatangi sebuah masa depan yang lebih buruk.
Masa depan di jeruji besi. Bisa dikatakan begitu.
Kemudian para wartawan berdatangan di bawah
sinar bulan mencari kepastian berita. Mencari bau-bau busuk yang bisa mereka
tulis dan laporkan di koran-koran dan televisi mereka. Dengan cahaya yang
sedikit temaram mereka menghampiri gedung itu. Mencoba untuk masuk. Kata-kata
memaksa membuat satpam penjaga itu mengizinkan. Di lobi saja katanya…
Gila, aku memang bersalah Tuhan. Ampuni aku. Aku
akan mencoba untuk melawan. Tidak mau aku diperlakukan seperti ini. Aku adalah
seorang yang paling mulia. Mereka menyebutku Yang Mulia. Tidak mungkin aku
diperlakukan terhina seperti ini. Aku akan melawan demi membela kesombonganku.
Suara mikrofon itu terdengar. Kamera-kamera
telah siap menatap dengan tajam sosok yang akan berbicara di meja itu. Seorang
juru bicara yang setiap saat menjadi penyambung lidah keingintahuan akan
keadilan. ”…malam ini telah tertangkap tangan seorang pejabat negara…diduga
karena menerima suap untuk meloloskan gugatan Pilkada…”
Esok kemudian mereka membacanya di koran kota,
di halaman pertama. Mereka juga menonton di televisi-televisi mereka. Menjadi
berita utama dan terus berulang-ulang disaksikan. Ada seorang yang telah rela
menggadaikan masa depannya. Menggadaikan bangsanya. Menggadaikan keluarganya,
anak-anaknya, dan mendustai sumpah jabatannya. Akan tetapi, ia tidak menangis
entah mengapa. Ia juga masih merasa tidak bersalah entah mengapa. Dan ia juga
tidak meminta maaf entah mengapa terhadap semua hal yang dikhianatinya.
Semakin lama semakin ramai mereka
membicarakannya. Seakan-akan masih tidak percaya dengan apa yang sudah terjadi.
Memang, uang, kekuasaan dan kekuatan akan terasa panas di tangan jika tidak
berada di tangan orang-orang yang benar. Begitu aku sering mendengar.
Rumah kediamannya dihampiri oleh para pencari
berita, mereka mencoba mencari tahu dan menerka-nerka berapa sebenarnya harta
kekayaannya. Dari kota hingga desa. Dari yang biasa disinggahi sampai
rumah-rumah di kampung halaman. Tidak ketinggalan pula semua usaha-usahanya
diliput, dicari tahu sumber dananya dan berapa penghasilan sebenarnya. Dan dari
semua itu hanya ada satu kalimat. Sangat tidak wajar dengan penghasilan yang
didapat.
Berita pun semakin memanas karena ditemukan pula
dua buah linting narkoba jenis baru yang sangat jarang beredar berada di ruang
kerjanya. Punya siapakah itu? Semua orang jelas ingin tahu. Jangan-jangan Yang
Mulia Yang Terhormat ini sedang teler ketika memimpin sidang.
Saya dijebak Tuan Penyidik. Uang itu bukan milik
saya. Ada orang yang membawakannya. Sungguh saya tidak bersalah. Saya dijebak.
Saya dijebak. Saya dijebak. Ada yang ingin menghancurkan nama baik saya. Ini
adalah sebuah konspirasi besar. Saya akan membuktikan bahwa saya tidak
bersalah.
Hari itu. Kita berangkat bersama. Melalui
pesawat yang sama. Singapura tujuan kita. Bukan karena kebetulan kita berada di
pesawat yang sama. Bukan juga karena kebetulan kita berada di hotel yang sama.
Bertemu kamu hari itu. Hari digadaikan martabat sebuah pengadilan dengan sekarung
janji dan uang. Tentu bukan untuk hari yang pertama kali. Lewat kawan lama,
semua negosiasi menjadi mudah. Hati kecil ini menolak dengan tegas. Akan tetapi
perlahan dengan pasti janji manis mengalahkan semuanya. Uang memang bisa
membeli segala-galanya.
Istriku, aku sudah selesai berobat di Singapura.
Sopirku yang menemaniku di sana. Dia memang sangat setia kepadaku. Selalu
menemaniku. Tentu saja sebagai orang kepercayaanku dia yang kujadikan orang
pertama untuk menerima uang-uang itu. Sedangkan aku, hanya duduk diam dan manis
saja menikmati semua yang kudapat dengan cara kotor itu. Istriku. Andai kau
tahu ini. Mungkin saja kau akan pergi meninggalkanku. Maafkan aku istriku.
Hari ini sudah kukabulkan permintaan kalian.
Persidangan sudah aku tutup. Sekarang nikmati kemenangan kalian. Tapi ingatlah,
kemenangan kalian berkat jasaku. Jangan lupakan itu. Camkan. Aku tunggu semua
yang kalian janjikan. Dan ingat hanya kita dan Tuhan yang mengetahui semua ini.
Satu per satu keluarganya datang. Istri, anak
dan saudara-saudara yang lain. Mereka menjenguk ke dalam teralis besi itu.
Raut-raut wajah kecewa menyelimuti mereka. Ingin memaki tetapi ayah sendiri.
Ingin memaki tetapi suami sendiri. Ingin memaki tetapi keluarga sendiri. Tetapi
mereka tidak ingin memaki seorang yang sudah tepat berada di depan mereka.
Karena mereka sadar, bukan makian yang ia butuhkan. Hanya sedikit rasa iba,
belas kasihan dan sedikit kepercayaan untuk menemaninya di jeruji besi itu.
Selain itu, karena mereka sadar bahwa sosok yang selama ini menjadi kebanggaan
mereka sudah setiap hari dicaci dan dimaki akibat peristiwa memalukan dan
memilukan ini.
Istriku, ingin rasanya kuseka air matamu.
Kuhapuskan kepedihanmu. Anakku. Ingin rasanya kukatakan bahwa aku tetap ayahmu.
Dan buat kau bangga memiliki ayah seperti aku. Tapi aku malu melakukannya. Aku
malu mengatakannya. Diriku telah menjadi aib bagi kalian. Tak pantas aku
rasanya meminta maaf karena kesalahanku yang begitu besar.
Mereka hanya terdiam. Tanpa kata. Hati mereka
menangis. Tatapan mereka kosong. Ada kata yang tak terucap, ada sedih yang tak
terungkap, ada benci dan amarah yang tak mungkin terluap. Seakan-akan terjebak
dalam sebuah lubang yang dalam. Mereka berusaha keluar dari suasana ini tetapi
mereka tidak mampu memulai dari mana untuk mencairkan suasana.
Sebuah kamera menatapnya dengan tajam, wartawan
itu bertanya-tanya dengan nada yang tegas dengan tujuan mendapatkan sebuah
jawaban. Tetapi laki-laki paruh baya itu tidak menjawab. Malah ia marah.
Mukanya memerah. Marah karena tak mau menjawab, sangat terusik dengan
pertanyaan wartawan atau marah karena malu terhadap dirinya sendiri. Lalu,
laki-laki itu mendorong kamera itu. Merusak kameranya dan menampar wartawan
itu. Lagi-lagi ada cerita baru yang akan dibahas di koran dan televisi tentang
Yang Mulia Terhormat ini.
Lalu, pengacara laki-laki paruh baya itu menjadi
perantara. Sering muncul di televisi-televisi dan berita di koran-koran kota.
Berusaha meluruskan cerita. Berusaha menjadi perantara laki-laki Yang Mulia
Terhormat ini. Pengacara itu berkata seperti hari-hari sebelumnya. Kliennya
tidak bersalah. Ia juga berkata bahwa kliennya dijebak. Tak luput ia juga
meminta maaf kepada wartawan yang ditampar oleh kliennya. Semua pembicaraannya
dan bantahannya menolak dengan tegas semua tuduhan yang dituduhkan kepada
kliennya.
Sekarang, laki-laki paruh baya itu sudah
mengundurkan diri. Mengundurkan diri sebelum ia diberhentikan dengan tidak
hormat. Berusaha berbuat bijak untuk mengurangi rasa malu. Padahal seharusnya
berbuat bijaklah ia untuk tidak menerima sesuatu bentuk apapun dari orang-orang
yang terlibat atau berperkara dengannya di meja persidangan.
Satu-per satu yang terlibat dengan peristiwa ini
diperiksa oleh penyidik. Beberapa menjadi saksi, dan beberapa pula ada yang
ikut ditangkap juga untuk menemani di jeruji besi. Satu-per satu pula
kroni-kroni dan antek-antek mafia peradilan ini yang berusaha menghalalkan
segala cara untuk menguasai dan memenangi segala bentuk sengketa pemilu muncul
di media massa. Terliput mobil-mobil mewah mereka. Entah datangnya dari mana.
Mungkin dari korupsi di daerah yang telah mereka kuasai. Bukan mungkin akan
tetapi pasti dari sana. Karena korupsi mereka kaya dan semakin kaya.
Hari ini mahkamah itu rusuh, sekelompok orang
sudah tidak percaya dengan pengadilan yang dinamakan gerbang terakhir
konstitusi atau penjaga terakhir konstitusi. Peristiwa ini, baru pertama kali
terjadi. Entah mereka sengaja, terencana atau tidak. Mereka merusak meja-meja
itu, mereka teriak-teriak meminta keadilan di gedung itu. Merusak berbagai
properti di ruangan itu. Pengeras suara dibanting, dihancurkan dan
polisi-polisi hanya melihat bingung harus berbuat apa.
Ada amarah di mata mereka, amarah yang mungkin
saja tertuju kepada seorang yang telah membunuh keadilan di penjaga konstitusi.
Hak-hak mereka merasa dicabut, kemenangan mereka serasa dirampas. Rasa keadilan
sudah tidak mereka rasakan di negeri ini.
Di balik itu semua, ada segerombolan anak kecil
di sudut-sudut kota, mereka tidur tanpa alas, mereka tidur tanpa memiliki atap,
mereka meminta-minta di jalan-jalan kota. Mereka sedang tidak mengerti dengan
yang terjadi di negeri ini. Mereka juga tidak perduli. Mereka hanya memikirkan
rasa lapar yang terus berlomba-lomba di dalam perut mereka. Silih berganti.
Di sudut kota yang lain, ada pedagang-pedagang
yang mencari rezeki dengan halal karena sudah tidak adanya lapangan pekerjaan
untuk mereka. Mereka berusaha sendiri, dengan modal dari dengkul dan lutut
mereka. Berjualan pun mereka harus berlari-lari dikejar-kejar oleh para petugas
pamong praja. Para petugas itu membawa pentungan, dan berteriak dengan keras.
Sangat keras. Seperti menghadapi pencuri yang sedang mencuri nasi. Akan tetapi
tidak terlihat teriakan petugas pamong praja itu saat menghadapi terpidana
korupsi yang masih bisa menyunggingkan senyum-senyum mereka dan melambaikan
tangan-tangan mereka kepada para wartawan dan kamera yang sedang berada di
depannya.
Di sudut gemerlap remang-remang kota, ada waria
yang menjajakan dirinya. Entah terpaksa atau tidak karena himpitan ekonomi atau
karena kebutuhan seksual mereka. Dan sekarang di desa, ada pak tani yang
terlilit rentenir untuk menghidupi keluarganya dengan harapan bisa dibayar saat
panen. Hidup mereka berputar di situ-situ saja. Tanpa impian dan
khayalan-khayalan yang terlalu muluk. Pak tani hanya ingin membahagiakan
keluarganya.
Laki-laki itu lupa atau pura-pura lupa.
Laki-laki itu tuli atau pura-pura tuli laki-laki paruh baya Yang Mulia
Terhormat. Apakah ia tidak melihat di sekitarnya. Tidak melihat di
sekelilingnya. Tidak bisa merasakan kesusahan dan jerih payah yang dirasakan
oleh masyarakat yang kurang beruntung di negeri ini. Masih banyak
kegundahan-kegundahan lain di negeri ini di bangsa ini.
Tabik, aku lelah menceritakan tentang seorang
yang membunuh keadilan di gerbang konstitusi. Ingatlah cerita ini bukan tentang
seseorang, melainkan seorang. Semoga kalian tahu perbedaannya. Tuhan berikanlah
cahaya-Mu di negeri ini.
saya copas di lakonhidup
Cerpen Iksaka Banu (Media Indonesia,
30 Maret 2014)
…di dalam sana di atas tikar, aku segera
tertidur dan tidak tahu apa mimpiku.
AKU tergagap
bangun. Max Havelaar! Ya, itu potongan sajak dari buku yang kubaca sebelum
berangkat ke Cilegon. Melintas begitu saja di kepala. Kuperiksa perban pembalut
pinggang. Tak ada infeksi. Kurasa aku kelelahan sehingga tertidur sampai pagi
memeluk leher kuda. Untung tidak terpelanting di jalan. Kutarik kekang. Hewan
yang semula berjalan sangat lambat itu kini berhenti. Kujatuhkan diri ke atas
rerumputan tepi jalan. Gerakan itu ternyata membuat pinggangku seperti disobek
tangan raksasa. Luka kembali terbuka.
Aku mencoba berdiri, tapi kepala terasa
berputar.
Mungkin karena belum makan sejak kemarin malam,
tapi aku tetap harus ke Serang mengabarkan semua ini.
Perlahan kutata ingatanku: Alun-alun Cilegon, 9
Juli 1888.
Mesiu, darah, neraka! Ya. Semua berawal dari
kunjungan perdana sore kemarin ke pos baruku: Kepolisian Sektor III, merangkap
penjara di jalan Tanjung Kurung. Setelah bicara dengan Dirk Zware Laarzen,
pejabat sementara yang kini resmi menjadi wakilku, aku berkeliling ke ruang
tahanan.
“Ustaz Rakhim?” kulongok sel terdepan, sebuah
ruang sempit dengan lubang angin bundar berterali di dinding belakang. Sinar
mentari menerobos dari situ, membuat kepala pria berkopiah putih yang berada di
balik pintu jeruji itu seolah berpendar seperti cahaya orang suci pada lukisan
gereja abad pertengahan. Ada suara gaduh yang berasal dari rantai di kedua
tangan dan kakinya saat ia mendekat. Sepasang matanya tajam mengiris. Kucoba
mengulangi pertanyaan. Bibir kehitaman di antara kumis serta jenggot lebat
orang itu tak bergerak. Agaknya ia terbiasa bicara dengan mata, tapi pandangan
bengisnya tertuju kepada orang di belakangku.
“Nama tak punya arti di sini, Inspektur,” Dirk
menggerutu dari balik punggungku. “Ia bisa bernama Rakhim, Wasid, atau Ismail.
Yang jelas, ia dan gerombolannya nyaris merobek perut Hendriek, minggu sore di
pasar. Sayang, hanya ia yang tertangkap.”
“Lalu yang di belakang itu?” aku melangkah ke
ruang jaga. Dari tempat itu terlihat beberapa kamar tahanan berukuran lebih
kecil.
“Pencopet biasa. Minggu depan kulepas.”
“Jadi sudah tiga hari orang tarekat itu di sini?
Apakah rantai diperlukan di dalam sel? Mengapa pula pipinya memar?” tanyaku.
“Ia menyerang saat pintu kubuka. Terpaksa popor
bedil bicara. Baru kemarin rantai kupasang. Betul, Usep?” Dirk menoleh kepada
seorang opas berkulit cokelat yang sedang meletakkan secangkir kopi untukku.
“Sumuhun, Tuan,” Usep memandang Dirk dan aku
sekilas sebelum kembali ke dapur.
Aku menghela napas. “Orang tarekat harus
didekati secara halus. Sekarang ia telanjur di sini. Hanya ada dua pilihan: ia
pindah ke penjara kabupaten secepatnya, atau penjagaan tempat ini diperkuat,”
kutarik sebatang cerutu dari saku jas seraya mengempaskan badan ke atas sofa.
“Telah kubaca semua arsip. Kota-kota di daerah
ini sejak dahulu bergiliran berontak,” kuloloskan asap cerutu. “Ciri
pemberontakannya khas, bersifat spiritual. Mulai dari kerusuhan di Cikandi
Udik, Kolelet, kasus Jayakusuma, serta tragedi dua tahun lalu, yaitu
pembantaian di Ciomas. Sasaran mereka bukan hanya militer, melainkan semua yang
mereka anggap kafir. Musuh Allah.“
“Kebetulan aku ikut membereskan sisa huru-hara
itu. Mereka mencincang pejabat Eropa, pangreh praja serta seluruh keluarga yang
hadir dalam Upacara Sedekah Bumi,“ Dirk meneguk kopinya. “Koran De
Locomotief pernah mengulas. Konon, semua kegilaan ini berkaitan dengan
Krakatau. Ledakan besar gunung itu lima tahun lalu mendatangkan gelombang
raksasa yang menyapu banyak desa, penyakit pes, serta ramalan kedatangan Imam
Mahdi, Ratu Adil yang konon akan membebaskan orang-orang ini dari tekanan
pemerintah Hindia.“
“Mereka terlalu miskin untuk memahami
perbaikan,“ aku menggeleng. “Kita perlu juru bicara, orang setempat yang bisa
menjelaskan bahwa 30 tahun terakhir ini kita telah menghapus banyak pajak,
bahkan meniadakan hukuman cambuk. Mengenai bencana Krakatau, bukankah kita
tidak alpa menyalurkan bantuan pangan, mengirim penggali kubur, serta
mendirikan pos kesehatan?“ kugigit cerutu agak lama. “Tetapi sungguh, popor
bedil itu berlebihan. Ia seorang pemimpin agama. Pikirkan murid-murid orang ini
di luar sana bila tahu pemimpin mereka dianiaya.“
“Mijn God!“ mendadak Dirk memukul meja,
membuat Usep yang berdiri di dekatku tersentak. “Engkau lama bertugas di Aceh,
Inspektur. Itu daerah para jantan. Aku berharap kedatanganmu membawa perubahan.
Janganlah menjadi perpanjangan tangan para birokrat liberal di Batavia, yang dengan
mudah termakan cerita picisan karya Multatuli atau siapa pun itu. Sungguh,
mereka yang duduk di kursi dewan bersama omong kosong tentang kemanusiaan itu
telah membuat kita menjadi tuan-tuan yang bingung dan lemah di sini. Di Ciomas,
anak perempuan Heer Jansen yang berusia empat tahun ditikam, lalu digantung
bersama kakak lelakinya. Ketika aku datang, wajah anak itu sudah menghitam,
dikerumuni lalat seperti kismis yang ditaburkan di atas selai stroberi. Dan
kita masih saja diminta menahan diri,“ sekali lagi Dirk menghantam meja,
“Sesungguhnya bukan cuma popor senapan. Aku ingin sekali jahanam di sana itu
ditembak tepat di kepala.“
“Kafir!“ tiba-tiba terdengar teriakan keras dari
sel. Dirk terlonjak menghampiri sumber suara.
“Oh, terganggu ocehanku? Kafir, eh? Tak
bertuhan?“ Dirk meraih tombak di sudut ruangan. “Dan kalian penggorok leher
wanita serta anak kecil, merasa bertuhan? Biar kuperlihatkan seperti apa orang
tak bertuhan itu!“
Dirk menyabetkan tombak berulang kali pada
terali sel sambil berteriak-teriak mirip orang kehilangan akal.
“Cukup, Hoofdagent!“ aku membentak. Dirk
menoleh. Napasnya naik-turun. Wajahnya seperti iblis. Ia membuang tombak, lalu
menarik botol wiski dari saku celana. Diteguknya beberapa kali sambil
mengibaskan tangan, mengusir beberapa agen polisi yang berkerumun mendengar
keributan.
“Sambil pulang, aku ingin melihat Cilegon di
malam hari. Mengenal rumah-rumah penting di sini,“ kuambil topi dan pistol,
pura-pura tak terpengaruh oleh kegilaan Dirk. “Besok kutemui asisten residen
dan jaksa, bicara pemindahan tahanan itu.“
“Kurasa mereka akan setuju. Nah, itu Agen Jaap.
Ia akan memandumu,“ Dirk yang sudah kembali tenang, membukakan pintu untukku.
“Tak usah,“ aku menggeleng. “Aku tak lama.“
“Baiklah,“ Dirk mengangkat bahu.
Pukul tujuh petang kunaiki kuda menuju kota.
Lampu-lampu gas di sekeliling alun-alun membuatku mudah mengamati segala
penjuru. Walau banyak warung masih buka, suasana keseluruhan cenderung sepi.
Seperti yang sempat dijelaskan Agen Jaap, rumah Asisten Residen Gubbels ada di
utara alunalun, sederet dengan kantor pos dan rumah Asisten Kontrolir Van
Rinsum. Aku ingin menengok ke sana. Seharusnya bisa langsung belok ke kanan,
melewati rumah jaksa serta ajun kolektor, lalu di ujung alunalun belok lagi ke
kiri, tapi jalan itu penuh lumpur.
Kuputuskan memutari alun-alun melewati rumah
bupati dan penjara besar yang rencananya akan kutengok esok hari. Aku sudah
tiba di muka masjid, siap mengarahkan kuda ke kanan ketika terdengar keributan
luar biasa dari selatan. Tak begitu jelas yang terjadi, tetapi banyak orang
lari membawa obor sambil berteriak-teriak. Para pemilik warung berhamburan
menyelamatkan dagangan. Di beberapa titik terlihat api memangsa atap rumah. Ada
letusan senapan disusul jeritan silih berganti.
Kuambil teropong. Segerombolan besar orang
dipimpin oleh beberapa sosok berbaju putih menghambur dengan tombak dan parang,
memasuki rumah-rumah pejabat, termasuk kediaman Patih Penna. Mereka menyeret
keluar dan menghantamkan aneka senjata ke tubuh penghuni rumah. Dari belakang
masjid, ratusan orang juga mulai menyerbu.
Tampaknya mereka masuk dari jalan kecil yang menghubungkan Desa Seneja dengan perumahan elite ini.
Tampaknya mereka masuk dari jalan kecil yang menghubungkan Desa Seneja dengan perumahan elite ini.
Salah seorang dari mereka berada sangat dekat
denganku. Kutarik revolver. Orang itu terjengkang, tapi ujung tombaknya sempat
hinggap di pinggangku. Para rekannya berseru mengacungkan parang. Ini
benar-benar perkara hidup-mati. Apakah tragedi Ciomas akan terulang? Kupacu
kuda ke tempat asal melalui jalan berlumpur. Sempat kuletupkan lagi revolver
dua kali sebelum tiba di kantor yang ternyata sudah berubah menjadi lautan api.
Beberapa agen polisi bergelimpangan tanpa nyawa di pelataran. Di pintu depan,
tubuh Dirk tergantung layu. Lidahnya terjulur. Sebuah pisau lengkung tertanam
di dada kirinya seperti cula badak.
“Simpan pistolmu, dan pergilah selagi bisa,
Tuan. Tangan Ratu Adil telah jatuh ke atas kota ini,“ terdengar suara yang
cukup kukenal, menyertai kokangan senapan.
“Usep?“ aku mengerutkan kening melihat opas yang
sore tadi mengantarkan kopi dengan ramah, kini berdiri beringas dengan Mauser
terarah kepadaku. Di belakangnya, tawanan berkopiah putih itu. Rantai di
tangannya sudah lenyap, berganti dengan parang.
Usep melemparkan tas perbekalan kepadaku, lalu
tanpa berkata lagi menepuk paha kudaku yang segera berjingkrak, melesat
meninggalkan tempat itu.
Jakarta,
2014
Hoofdagent: polisi senior.
Iksaka
Banu, penulis dan praktisi periklanan. Tinggal di Jakarta.
tulisan ini saya copas dari lakon hidup
Hukum Acara perdata (Hukum perdata formil) adalah
Peraturan hukum utk mempertahankan berlakunya hukum perdata materiil, terutama apabila terjadi pelanggaran, melalui pemeriksaan hakim di pengadilan.
Sumber Hukum Acara Perdata
- HIR (Herziene Inlands Indonesisch Reglement /HIR).
- Rbg (Rechtsreglement Buitangewesten
- UU No.4/2004 ttg Pokok2 kekuasaan Kehakiman yg merupakan revisi dari UU No.14/1970 dan UU No.35/1999
- Yurisprudensi
- Perjanjian internasional
- Doktrin
Asas-asas Hukum Acara Perdata
- Hakim bersifat menunggu
- Hakim bersifat pasif dalam menentukan tuntutan (pokok Sengketa) yg diajukan para pihak
- Sidang terbuka untuk umum
- Beracara dikenakan biaya
- Beracara dpt secara tertulis atau lisan
- Hakim harus mendengarkan kedua belah pihak
- Berperkara tdk harus diwakilkan
- Adanya hak ingkar baik bagi hakim maupun para pihakj
- Putusan hakim harus disertai dengan pertimbangan
Proses Pemeriksaan Perkara Perdata
- Pengajuan surat gugat oleh penggugat atau kuasanya kpd ketua PN dimana tempat tinggal tergugat, atau di tempat tinggal penggugat jika tempat tinggal tergugat tdk diketahui.
- Pada hari sidang yg telah ditentukan, mula2 hakim membuka sidang. Jika pada sidang pertama penggugat tdk hadir, maka gugatan dpt digugurkan.
Macam Alat Bukti
(Pasal 138-176 HIR & Buku IV KUHPer):
(Pasal 138-176 HIR & Buku IV KUHPer):
Alat2 bukti :
- Bukti tulisan
- Bukti dengan saksi2
- Persangkaan2
- Pengakuan
- sumpah
Kewajiban Saksi
- Kewajiban utk menghadap
- Kewajiban utk bersumpah
- Kewajiban utk memberi keterangan
Berbagai Upaya Hukum
- Verzet atau perlawanan
- Banding
- Kasasi
- Peninjauan Kembali
- Perlawanan pihak ketiga (Derdenverzet)
|
Huruf Arab
|
Nama
|
Huruf Latin
|
Nama
|
|
ا
|
alif
|
tidak dilambangkan
|
tidak dilambangkan
|
|
ب
|
ba’
|
b
|
be
|
|
ت
|
ta’
|
t
|
te
|
|
ث
|
sa’
|
ś
|
es (dengan titik di atas)
|
|
ج
|
jim
|
j
|
je
|
|
ح
|
ha’
|
ḥ
|
ha (dengan titik di bawah)
|
|
خ
|
kha’
|
kh
|
ka dan ha
|
|
د
|
dal
|
d
|
de
|
|
ذ
|
zāl
|
ż
|
zet (dengan titik di atas)
|
|
ر
|
ra’
|
r
|
er
|
|
ز
|
zai
|
z
|
zet
|
|
س
|
sin
|
s
|
es
|
|
ش
|
syin
|
sy
|
es dan ye
|
|
ص
|
sad
|
ṣ
|
es (dengan titik di bawah)
|
|
ض
|
dad
|
ḍ
|
de (dengan titik di bawah)
|
|
ط
|
ta’
|
ţ
|
te (dengan titik di bawah)
|
|
ظ
|
Za
|
ẓ
|
zet (dengan titik di bawah)
|
|
ع
|
‘ain
|
‘
|
koma terbalik di atas
|
|
غ
|
gain
|
g
|
ge
|
|
ف
|
fa’
|
f
|
ef
|
|
ق
|
qaf
|
q
|
qi
|
|
ك
|
kaf
|
k
|
ka
|
|
ل
|
lam
|
l
|
‘el
|
|
م
|
mim
|
m
|
‘em
|
|
ن
|
nun
|
n
|
‘en
|
|
و
|
wawu
|
w
|
W
|
|
ه
|
ha’
|
h
|
ha
|
|
ء
|
hamzah
|
‘
|
apostrof
|
|
ي
|
ya’
|
y
|
ye
|
Langganan:
Postingan (Atom)
Comments
Popular Posts
-
Hukum Acara perdata (Hukum perdata formil) adalah Peraturan hukum utk mempertahankan berlakunya hukum perdata materiil, terutama apab...
-
Cerpen Iksaka Banu ( Media Indonesia , 30 Maret 2014) …di dalam sana di atas tikar, aku segera tertidur dan tidak tahu apa mimpiku....
-
Huruf Arab Nama Huruf Latin Nama ا alif tidak dilambangkan tidak ...
-
MALAM itu tampak lebih kelam, suram, dan padam tidak seperti biasa. Bukan karena gelap dan dingin malam, tetapi karena wajahnya tertun...
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)