Headlines

Hukum Perkawinan

Hukum Waris

Hukum Wakaf



MALAM itu tampak lebih kelam, suram, dan padam tidak seperti biasa. Bukan karena gelap dan dingin malam, tetapi karena wajahnya tertunduk lesu, pucat pasi dengan tangan terikat dan lolongan anjing-anjing yang begitu memaki selalu meneriaki.
Laki-laki paruh baya itu mendatangi gedung itu. Tentu tidak sendiri, beserta para penjaga yang memborgol kedua tangannya. Mendatangi gedung itu berarti mendatangi sebuah masa depan yang lebih buruk. Masa depan di jeruji besi. Bisa dikatakan begitu. 
Kemudian para wartawan berdatangan di bawah sinar bulan mencari kepastian berita. Mencari bau-bau busuk yang bisa mereka tulis dan laporkan di koran-koran dan televisi mereka. Dengan cahaya yang sedikit temaram mereka menghampiri gedung itu. Mencoba untuk masuk. Kata-kata memaksa membuat satpam penjaga itu mengizinkan. Di lobi saja katanya…
Gila, aku memang bersalah Tuhan. Ampuni aku. Aku akan mencoba untuk melawan. Tidak mau aku diperlakukan seperti ini. Aku adalah seorang yang paling mulia. Mereka menyebutku Yang Mulia. Tidak mungkin aku diperlakukan terhina seperti ini. Aku akan melawan demi membela kesombonganku.
Suara mikrofon itu terdengar. Kamera-kamera telah siap menatap dengan tajam sosok yang akan berbicara di meja itu. Seorang juru bicara yang setiap saat menjadi penyambung lidah keingintahuan akan keadilan. ”…malam ini telah tertangkap tangan seorang pejabat negara…diduga karena menerima suap untuk meloloskan gugatan Pilkada…”
Esok kemudian mereka membacanya di koran kota, di halaman pertama. Mereka juga menonton di televisi-televisi mereka. Menjadi berita utama dan terus berulang-ulang disaksikan. Ada seorang yang telah rela menggadaikan masa depannya. Menggadaikan bangsanya. Menggadaikan keluarganya, anak-anaknya, dan mendustai sumpah jabatannya. Akan tetapi, ia tidak menangis entah mengapa. Ia juga masih merasa tidak bersalah entah mengapa. Dan ia juga tidak meminta maaf entah mengapa terhadap semua hal yang dikhianatinya.
Semakin lama semakin ramai mereka membicarakannya. Seakan-akan masih tidak percaya dengan apa yang sudah terjadi. Memang, uang, kekuasaan dan kekuatan akan terasa panas di tangan jika tidak berada di tangan orang-orang yang benar. Begitu aku sering mendengar.
Rumah kediamannya dihampiri oleh para pencari berita, mereka mencoba mencari tahu dan menerka-nerka berapa sebenarnya harta kekayaannya. Dari kota hingga desa. Dari yang biasa disinggahi sampai rumah-rumah di kampung halaman. Tidak ketinggalan pula semua usaha-usahanya diliput, dicari tahu sumber dananya dan berapa penghasilan sebenarnya. Dan dari semua itu hanya ada satu kalimat. Sangat tidak wajar dengan penghasilan yang didapat.
Berita pun semakin memanas karena ditemukan pula dua buah linting narkoba jenis baru yang sangat jarang beredar berada di ruang kerjanya. Punya siapakah itu? Semua orang jelas ingin tahu. Jangan-jangan Yang Mulia Yang Terhormat ini sedang teler ketika memimpin sidang.
Saya dijebak Tuan Penyidik. Uang itu bukan milik saya. Ada orang yang membawakannya. Sungguh saya tidak bersalah. Saya dijebak. Saya dijebak. Saya dijebak. Ada yang ingin menghancurkan nama baik saya. Ini adalah sebuah konspirasi besar. Saya akan membuktikan bahwa saya tidak bersalah.
Hari itu. Kita berangkat bersama. Melalui pesawat yang sama. Singapura tujuan kita. Bukan karena kebetulan kita berada di pesawat yang sama. Bukan juga karena kebetulan kita berada di hotel yang sama. Bertemu kamu hari itu. Hari digadaikan martabat sebuah pengadilan dengan sekarung janji dan uang. Tentu bukan untuk hari yang pertama kali. Lewat kawan lama, semua negosiasi menjadi mudah. Hati kecil ini menolak dengan tegas. Akan tetapi perlahan dengan pasti janji manis mengalahkan semuanya. Uang memang bisa membeli segala-galanya.
Istriku, aku sudah selesai berobat di Singapura. Sopirku yang menemaniku di sana. Dia memang sangat setia kepadaku. Selalu menemaniku. Tentu saja sebagai orang kepercayaanku dia yang kujadikan orang pertama untuk menerima uang-uang itu. Sedangkan aku, hanya duduk diam dan manis saja menikmati semua yang kudapat dengan cara kotor itu. Istriku. Andai kau tahu ini. Mungkin saja kau akan pergi meninggalkanku. Maafkan aku istriku.
Hari ini sudah kukabulkan permintaan kalian. Persidangan sudah aku tutup. Sekarang nikmati kemenangan kalian. Tapi ingatlah, kemenangan kalian berkat jasaku. Jangan lupakan itu. Camkan. Aku tunggu semua yang kalian janjikan. Dan ingat hanya kita dan Tuhan yang mengetahui semua ini.
Satu per satu keluarganya datang. Istri, anak dan saudara-saudara yang lain. Mereka menjenguk ke dalam teralis besi itu. Raut-raut wajah kecewa menyelimuti mereka. Ingin memaki tetapi ayah sendiri. Ingin memaki tetapi suami sendiri. Ingin memaki tetapi keluarga sendiri. Tetapi mereka tidak ingin memaki seorang yang sudah tepat berada di depan mereka. Karena mereka sadar, bukan makian yang ia butuhkan. Hanya sedikit rasa iba, belas kasihan dan sedikit kepercayaan untuk menemaninya di jeruji besi itu. Selain itu, karena mereka sadar bahwa sosok yang selama ini menjadi kebanggaan mereka sudah setiap hari dicaci dan dimaki akibat peristiwa memalukan dan memilukan ini.
Istriku, ingin rasanya kuseka air matamu. Kuhapuskan kepedihanmu. Anakku. Ingin rasanya kukatakan bahwa aku tetap ayahmu. Dan buat kau bangga memiliki ayah seperti aku. Tapi aku malu melakukannya. Aku malu mengatakannya. Diriku telah menjadi aib bagi kalian. Tak pantas aku rasanya meminta maaf karena kesalahanku yang begitu besar.
Mereka hanya terdiam. Tanpa kata. Hati mereka menangis. Tatapan mereka kosong. Ada kata yang tak terucap, ada sedih yang tak terungkap, ada benci dan amarah yang tak mungkin terluap. Seakan-akan terjebak dalam sebuah lubang yang dalam. Mereka berusaha keluar dari suasana ini tetapi mereka tidak mampu memulai dari mana untuk mencairkan suasana.
Sebuah kamera menatapnya dengan tajam, wartawan itu bertanya-tanya dengan nada yang tegas dengan tujuan mendapatkan sebuah jawaban. Tetapi laki-laki paruh baya itu tidak menjawab. Malah ia marah. Mukanya memerah. Marah karena tak mau menjawab, sangat terusik dengan pertanyaan wartawan atau marah karena malu terhadap dirinya sendiri. Lalu, laki-laki itu mendorong kamera itu. Merusak kameranya dan menampar wartawan itu. Lagi-lagi ada cerita baru yang akan dibahas di koran dan televisi tentang Yang Mulia Terhormat ini.
Lalu, pengacara laki-laki paruh baya itu menjadi perantara. Sering muncul di televisi-televisi dan berita di koran-koran kota. Berusaha meluruskan cerita. Berusaha menjadi perantara laki-laki Yang Mulia Terhormat ini. Pengacara itu berkata seperti hari-hari sebelumnya. Kliennya tidak bersalah. Ia juga berkata bahwa kliennya dijebak. Tak luput ia juga meminta maaf kepada wartawan yang ditampar oleh kliennya. Semua pembicaraannya dan bantahannya menolak dengan tegas semua tuduhan yang dituduhkan kepada kliennya.
Sekarang, laki-laki paruh baya itu sudah mengundurkan diri. Mengundurkan diri sebelum ia diberhentikan dengan tidak hormat. Berusaha berbuat bijak untuk mengurangi rasa malu. Padahal seharusnya berbuat bijaklah ia untuk tidak menerima sesuatu bentuk apapun dari orang-orang yang terlibat atau berperkara dengannya di meja persidangan.
Satu-per satu yang terlibat dengan peristiwa ini diperiksa oleh penyidik. Beberapa menjadi saksi, dan beberapa pula ada yang ikut ditangkap juga untuk menemani di jeruji besi. Satu-per satu pula kroni-kroni dan antek-antek mafia peradilan ini yang berusaha menghalalkan segala cara untuk menguasai dan memenangi segala bentuk sengketa pemilu muncul di media massa. Terliput mobil-mobil mewah mereka. Entah datangnya dari mana. Mungkin dari korupsi di daerah yang telah mereka kuasai. Bukan mungkin akan tetapi pasti dari sana. Karena korupsi mereka kaya dan semakin kaya.
Hari ini mahkamah itu rusuh, sekelompok orang sudah tidak percaya dengan pengadilan yang dinamakan gerbang terakhir konstitusi atau penjaga terakhir konstitusi. Peristiwa ini, baru pertama kali terjadi. Entah mereka sengaja, terencana atau tidak. Mereka merusak meja-meja itu, mereka teriak-teriak meminta keadilan di gedung itu. Merusak berbagai properti di ruangan itu. Pengeras suara dibanting, dihancurkan dan polisi-polisi hanya melihat bingung harus berbuat apa.
Ada amarah di mata mereka, amarah yang mungkin saja tertuju kepada seorang yang telah membunuh keadilan di penjaga konstitusi. Hak-hak mereka merasa dicabut, kemenangan mereka serasa dirampas. Rasa keadilan sudah tidak mereka rasakan di negeri ini.
Di balik itu semua, ada segerombolan anak kecil di sudut-sudut kota, mereka tidur tanpa alas, mereka tidur tanpa memiliki atap, mereka meminta-minta di jalan-jalan kota. Mereka sedang tidak mengerti dengan yang terjadi di negeri ini. Mereka juga tidak perduli. Mereka hanya memikirkan rasa lapar yang terus berlomba-lomba di dalam perut mereka. Silih berganti.
Di sudut kota yang lain, ada pedagang-pedagang yang mencari rezeki dengan halal karena sudah tidak adanya lapangan pekerjaan untuk mereka. Mereka berusaha sendiri, dengan modal dari dengkul dan lutut mereka. Berjualan pun mereka harus berlari-lari dikejar-kejar oleh para petugas pamong praja. Para petugas itu membawa pentungan, dan berteriak dengan keras. Sangat keras. Seperti menghadapi pencuri yang sedang mencuri nasi. Akan tetapi tidak terlihat teriakan petugas pamong praja itu saat menghadapi terpidana korupsi yang masih bisa menyunggingkan senyum-senyum mereka dan melambaikan tangan-tangan mereka kepada para wartawan dan kamera yang sedang berada di depannya.
Di sudut gemerlap remang-remang kota, ada waria yang menjajakan dirinya. Entah terpaksa atau tidak karena himpitan ekonomi atau karena kebutuhan seksual mereka. Dan sekarang di desa, ada pak tani yang terlilit rentenir untuk menghidupi keluarganya dengan harapan bisa dibayar saat panen. Hidup mereka berputar di situ-situ saja. Tanpa impian dan khayalan-khayalan yang terlalu muluk. Pak tani hanya ingin membahagiakan keluarganya.
Laki-laki itu lupa atau pura-pura lupa. Laki-laki itu tuli atau pura-pura tuli laki-laki paruh baya Yang Mulia Terhormat. Apakah ia tidak melihat di sekitarnya. Tidak melihat di sekelilingnya. Tidak bisa merasakan kesusahan dan jerih payah yang dirasakan oleh masyarakat yang kurang beruntung di negeri ini. Masih banyak kegundahan-kegundahan lain di negeri ini di bangsa ini.
Tabik, aku lelah menceritakan tentang seorang yang membunuh keadilan di gerbang konstitusi. Ingatlah cerita ini bukan tentang seseorang, melainkan seorang. Semoga kalian tahu perbedaannya. Tuhan berikanlah cahaya-Mu di negeri ini.


saya copas di lakonhidup


Cerpen Iksaka Banu (Media Indonesia, 30 Maret 2014)

…di dalam sana di atas tikar, aku segera tertidur dan tidak tahu apa mimpiku.
AKU tergagap bangun. Max Havelaar! Ya, itu potongan sajak dari buku yang kubaca sebelum berangkat ke Cilegon. Melintas begitu saja di kepala. Kuperiksa perban pembalut pinggang. Tak ada infeksi. Kurasa aku kelelahan sehingga tertidur sampai pagi memeluk leher kuda. Untung tidak terpelanting di jalan. Kutarik kekang. Hewan yang semula berjalan sangat lambat itu kini berhenti. Kujatuhkan diri ke atas rerumputan tepi jalan. Gerakan itu ternyata membuat pinggangku seperti disobek tangan raksasa. Luka kembali terbuka. 
Aku mencoba berdiri, tapi kepala terasa berputar.
Mungkin karena belum makan sejak kemarin malam, tapi aku tetap harus ke Serang mengabarkan semua ini.
Perlahan kutata ingatanku: Alun-alun Cilegon, 9 Juli 1888.
Mesiu, darah, neraka! Ya. Semua berawal dari kunjungan perdana sore kemarin ke pos baruku: Kepolisian Sektor III, merangkap penjara di jalan Tanjung Kurung. Setelah bicara dengan Dirk Zware Laarzen, pejabat sementara yang kini resmi menjadi wakilku, aku berkeliling ke ruang tahanan.
“Ustaz Rakhim?” kulongok sel terdepan, sebuah ruang sempit dengan lubang angin bundar berterali di dinding belakang. Sinar mentari menerobos dari situ, membuat kepala pria berkopiah putih yang berada di balik pintu jeruji itu seolah berpendar seperti cahaya orang suci pada lukisan gereja abad pertengahan. Ada suara gaduh yang berasal dari rantai di kedua tangan dan kakinya saat ia mendekat. Sepasang matanya tajam mengiris. Kucoba mengulangi pertanyaan. Bibir kehitaman di antara kumis serta jenggot lebat orang itu tak bergerak. Agaknya ia terbiasa bicara dengan mata, tapi pandangan bengisnya tertuju kepada orang di belakangku.
“Nama tak punya arti di sini, Inspektur,” Dirk menggerutu dari balik punggungku. “Ia bisa bernama Rakhim, Wasid, atau Ismail. Yang jelas, ia dan gerombolannya nyaris merobek perut Hendriek, minggu sore di pasar. Sayang, hanya ia yang tertangkap.”
“Lalu yang di belakang itu?” aku melangkah ke ruang jaga. Dari tempat itu terlihat beberapa kamar tahanan berukuran lebih kecil.
“Pencopet biasa. Minggu depan kulepas.”
“Jadi sudah tiga hari orang tarekat itu di sini? Apakah rantai diperlukan di dalam sel? Mengapa pula pipinya memar?” tanyaku.
“Ia menyerang saat pintu kubuka. Terpaksa popor bedil bicara. Baru kemarin rantai kupasang. Betul, Usep?” Dirk menoleh kepada seorang opas berkulit cokelat yang sedang meletakkan secangkir kopi untukku.
“Sumuhun, Tuan,” Usep memandang Dirk dan aku sekilas sebelum kembali ke dapur.
Aku menghela napas. “Orang tarekat harus didekati secara halus. Sekarang ia telanjur di sini. Hanya ada dua pilihan: ia pindah ke penjara kabupaten secepatnya, atau penjagaan tempat ini diperkuat,” kutarik sebatang cerutu dari saku jas seraya mengempaskan badan ke atas sofa.
“Telah kubaca semua arsip. Kota-kota di daerah ini sejak dahulu bergiliran berontak,” kuloloskan asap cerutu. “Ciri pemberontakannya khas, bersifat spiritual. Mulai dari kerusuhan di Cikandi Udik, Kolelet, kasus Jayakusuma, serta tragedi dua tahun lalu, yaitu pembantaian di Ciomas. Sasaran mereka bukan hanya militer, melainkan semua yang mereka anggap kafir. Musuh Allah.“
“Kebetulan aku ikut membereskan sisa huru-hara itu. Mereka mencincang pejabat Eropa, pangreh praja serta seluruh keluarga yang hadir dalam Upacara Sedekah Bumi,“ Dirk meneguk kopinya. “Koran De Locomotief pernah mengulas. Konon, semua kegilaan ini berkaitan dengan Krakatau. Ledakan besar gunung itu lima tahun lalu mendatangkan gelombang raksasa yang menyapu banyak desa, penyakit pes, serta ramalan kedatangan Imam Mahdi, Ratu Adil yang konon akan membebaskan orang-orang ini dari tekanan pemerintah Hindia.“
“Mereka terlalu miskin untuk memahami perbaikan,“ aku menggeleng. “Kita perlu juru bicara, orang setempat yang bisa menjelaskan bahwa 30 tahun terakhir ini kita telah menghapus banyak pajak, bahkan meniadakan hukuman cambuk. Mengenai bencana Krakatau, bukankah kita tidak alpa menyalurkan bantuan pangan, mengirim penggali kubur, serta mendirikan pos kesehatan?“ kugigit cerutu agak lama. “Tetapi sungguh, popor bedil itu berlebihan. Ia seorang pemimpin agama. Pikirkan murid-murid orang ini di luar sana bila tahu pemimpin mereka dianiaya.“
Mijn God!“ mendadak Dirk memukul meja, membuat Usep yang berdiri di dekatku tersentak. “Engkau lama bertugas di Aceh, Inspektur. Itu daerah para jantan. Aku berharap kedatanganmu membawa perubahan. Janganlah menjadi perpanjangan tangan para birokrat liberal di Batavia, yang dengan mudah termakan cerita picisan karya Multatuli atau siapa pun itu. Sungguh, mereka yang duduk di kursi dewan bersama omong kosong tentang kemanusiaan itu telah membuat kita menjadi tuan-tuan yang bingung dan lemah di sini. Di Ciomas, anak perempuan Heer Jansen yang berusia empat tahun ditikam, lalu digantung bersama kakak lelakinya. Ketika aku datang, wajah anak itu sudah menghitam, dikerumuni lalat seperti kismis yang ditaburkan di atas selai stroberi. Dan kita masih saja diminta menahan diri,“ sekali lagi Dirk menghantam meja, “Sesungguhnya bukan cuma popor senapan. Aku ingin sekali jahanam di sana itu ditembak tepat di kepala.“
“Kafir!“ tiba-tiba terdengar teriakan keras dari sel. Dirk terlonjak menghampiri sumber suara.
“Oh, terganggu ocehanku? Kafir, eh? Tak bertuhan?“ Dirk meraih tombak di sudut ruangan. “Dan kalian penggorok leher wanita serta anak kecil, merasa bertuhan? Biar kuperlihatkan seperti apa orang tak bertuhan itu!“
Dirk menyabetkan tombak berulang kali pada terali sel sambil berteriak-teriak mirip orang kehilangan akal.
“Cukup, Hoofdagent!“ aku membentak. Dirk menoleh. Napasnya naik-turun. Wajahnya seperti iblis. Ia membuang tombak, lalu menarik botol wiski dari saku celana. Diteguknya beberapa kali sambil mengibaskan tangan, mengusir beberapa agen polisi yang berkerumun mendengar keributan.
“Sambil pulang, aku ingin melihat Cilegon di malam hari. Mengenal rumah-rumah penting di sini,“ kuambil topi dan pistol, pura-pura tak terpengaruh oleh kegilaan Dirk. “Besok kutemui asisten residen dan jaksa, bicara pemindahan tahanan itu.“
“Kurasa mereka akan setuju. Nah, itu Agen Jaap. Ia akan memandumu,“ Dirk yang sudah kembali tenang, membukakan pintu untukku.
“Tak usah,“ aku menggeleng. “Aku tak lama.“
“Baiklah,“ Dirk mengangkat bahu.
Pukul tujuh petang kunaiki kuda menuju kota. Lampu-lampu gas di sekeliling alun-alun membuatku mudah mengamati segala penjuru. Walau banyak warung masih buka, suasana keseluruhan cenderung sepi. Seperti yang sempat dijelaskan Agen Jaap, rumah Asisten Residen Gubbels ada di utara alunalun, sederet dengan kantor pos dan rumah Asisten Kontrolir Van Rinsum. Aku ingin menengok ke sana. Seharusnya bisa langsung belok ke kanan, melewati rumah jaksa serta ajun kolektor, lalu di ujung alunalun belok lagi ke kiri, tapi jalan itu penuh lumpur.
Kuputuskan memutari alun-alun melewati rumah bupati dan penjara besar yang rencananya akan kutengok esok hari. Aku sudah tiba di muka masjid, siap mengarahkan kuda ke kanan ketika terdengar keributan luar biasa dari selatan. Tak begitu jelas yang terjadi, tetapi banyak orang lari membawa obor sambil berteriak-teriak. Para pemilik warung berhamburan menyelamatkan dagangan. Di beberapa titik terlihat api memangsa atap rumah. Ada letusan senapan disusul jeritan silih berganti.
Kuambil teropong. Segerombolan besar orang dipimpin oleh beberapa sosok berbaju putih menghambur dengan tombak dan parang, memasuki rumah-rumah pejabat, termasuk kediaman Patih Penna. Mereka menyeret keluar dan menghantamkan aneka senjata ke tubuh penghuni rumah. Dari belakang masjid, ratusan orang juga mulai menyerbu.
Tampaknya mereka masuk dari jalan kecil yang menghubungkan Desa Seneja dengan perumahan elite ini.
Salah seorang dari mereka berada sangat dekat denganku. Kutarik revolver. Orang itu terjengkang, tapi ujung tombaknya sempat hinggap di pinggangku. Para rekannya berseru mengacungkan parang. Ini benar-benar perkara hidup-mati. Apakah tragedi Ciomas akan terulang? Kupacu kuda ke tempat asal melalui jalan berlumpur. Sempat kuletupkan lagi revolver dua kali sebelum tiba di kantor yang ternyata sudah berubah menjadi lautan api. Beberapa agen polisi bergelimpangan tanpa nyawa di pelataran. Di pintu depan, tubuh Dirk tergantung layu. Lidahnya terjulur. Sebuah pisau lengkung tertanam di dada kirinya seperti cula badak.
“Simpan pistolmu, dan pergilah selagi bisa, Tuan. Tangan Ratu Adil telah jatuh ke atas kota ini,“ terdengar suara yang cukup kukenal, menyertai kokangan senapan.
“Usep?“ aku mengerutkan kening melihat opas yang sore tadi mengantarkan kopi dengan ramah, kini berdiri beringas dengan Mauser terarah kepadaku. Di belakangnya, tawanan berkopiah putih itu. Rantai di tangannya sudah lenyap, berganti dengan parang.
Usep melemparkan tas perbekalan kepadaku, lalu tanpa berkata lagi menepuk paha kudaku yang segera berjingkrak, melesat meninggalkan tempat itu.


Jakarta, 2014
Hoofdagent: polisi senior.


Iksaka Banu, penulis dan praktisi periklanan. Tinggal di Jakarta.
tulisan ini saya copas dari lakon hidup


Hukum Acara perdata (Hukum perdata formil) adalah
Peraturan hukum utk mempertahankan berlakunya hukum perdata materiil, terutama apabila terjadi pelanggaran, melalui pemeriksaan hakim di pengadilan.
Sumber Hukum Acara Perdata
  1. HIR (Herziene Inlands Indonesisch Reglement /HIR).
  2. Rbg (Rechtsreglement Buitangewesten
  3. UU No.4/2004 ttg Pokok2 kekuasaan Kehakiman yg merupakan revisi dari UU No.14/1970 dan UU No.35/1999
  4. Yurisprudensi
  5. Perjanjian internasional
  6. Doktrin
Asas-asas Hukum Acara Perdata
  1. Hakim bersifat menunggu
  2. Hakim bersifat pasif dalam menentukan tuntutan (pokok Sengketa) yg diajukan para pihak
  3. Sidang terbuka untuk umum
  4. Beracara dikenakan biaya
  5. Beracara dpt secara tertulis atau lisan
  6. Hakim harus mendengarkan kedua belah pihak
  7. Berperkara tdk harus diwakilkan
  8. Adanya hak ingkar baik bagi hakim maupun para pihakj
  9. Putusan hakim harus disertai dengan pertimbangan
Proses Pemeriksaan Perkara Perdata
  1. Pengajuan surat gugat oleh penggugat atau kuasanya kpd ketua PN dimana tempat tinggal tergugat, atau di tempat tinggal penggugat jika tempat tinggal tergugat tdk diketahui.
  2. Pada hari sidang yg telah ditentukan, mula2 hakim membuka sidang. Jika pada sidang pertama penggugat tdk hadir, maka gugatan dpt digugurkan.
Macam Alat Bukti
(Pasal 138-176 HIR & Buku IV KUHPer):
Alat2 bukti :
  1. Bukti tulisan
  2. Bukti dengan saksi2
  3. Persangkaan2
  4. Pengakuan
  5. sumpah
Kewajiban Saksi
  1. Kewajiban utk menghadap
  2. Kewajiban utk bersumpah
  3. Kewajiban utk memberi keterangan
Berbagai Upaya Hukum
  1. Verzet atau perlawanan
  2. Banding
  3. Kasasi
  4. Peninjauan Kembali
  5. Perlawanan pihak ketiga (Derdenverzet)


Huruf Arab
Nama
Huruf Latin
Nama
ا
alif
tidak dilambangkan
tidak dilambangkan
ب
ba’
b
be
ت
ta’
t
te
ث
sa’
ś
es (dengan titik di atas)
ج
jim
j
je
ح
ha’
ha (dengan titik di bawah)
خ
kha’
kh
ka dan ha
د
dal
d
de
ذ
zāl
ż
zet (dengan titik di atas)
ر
ra’
r
er
ز
zai
z
zet
س
sin
s
es
ش
syin
sy
es dan ye
ص
sad
es (dengan titik di bawah)
ض
dad
de (dengan titik di bawah)
ط
ta’
ţ
te (dengan titik di bawah)
ظ
Za
zet (dengan titik di bawah)
ع
‘ain
koma terbalik di atas
غ
gain
g
ge
ف
fa’
f
ef
ق
qaf
q
qi
ك
kaf
k
ka
ل
lam
l
‘el
م
mim
m
‘em
ن
nun
n
‘en
و
wawu
w
W
ه
ha’
h
ha
ء
hamzah
apostrof
ي
ya’
y
ye