Home
»
Cerpen
»
Hukum Perkawinan
»
Hukum Wakaf
»
Hukum Waris
» Tentang Ratu Adil (Cerpen Media Indonesia)
Tentang Ratu Adil (Cerpen Media Indonesia)
Posted by: Unknown Posted date: 03.06 / comment : 0
Cerpen Iksaka Banu (Media Indonesia,
30 Maret 2014)
…di dalam sana di atas tikar, aku segera
tertidur dan tidak tahu apa mimpiku.
AKU tergagap
bangun. Max Havelaar! Ya, itu potongan sajak dari buku yang kubaca sebelum
berangkat ke Cilegon. Melintas begitu saja di kepala. Kuperiksa perban pembalut
pinggang. Tak ada infeksi. Kurasa aku kelelahan sehingga tertidur sampai pagi
memeluk leher kuda. Untung tidak terpelanting di jalan. Kutarik kekang. Hewan
yang semula berjalan sangat lambat itu kini berhenti. Kujatuhkan diri ke atas
rerumputan tepi jalan. Gerakan itu ternyata membuat pinggangku seperti disobek
tangan raksasa. Luka kembali terbuka.
Aku mencoba berdiri, tapi kepala terasa
berputar.
Mungkin karena belum makan sejak kemarin malam,
tapi aku tetap harus ke Serang mengabarkan semua ini.
Perlahan kutata ingatanku: Alun-alun Cilegon, 9
Juli 1888.
Mesiu, darah, neraka! Ya. Semua berawal dari
kunjungan perdana sore kemarin ke pos baruku: Kepolisian Sektor III, merangkap
penjara di jalan Tanjung Kurung. Setelah bicara dengan Dirk Zware Laarzen,
pejabat sementara yang kini resmi menjadi wakilku, aku berkeliling ke ruang
tahanan.
“Ustaz Rakhim?” kulongok sel terdepan, sebuah
ruang sempit dengan lubang angin bundar berterali di dinding belakang. Sinar
mentari menerobos dari situ, membuat kepala pria berkopiah putih yang berada di
balik pintu jeruji itu seolah berpendar seperti cahaya orang suci pada lukisan
gereja abad pertengahan. Ada suara gaduh yang berasal dari rantai di kedua
tangan dan kakinya saat ia mendekat. Sepasang matanya tajam mengiris. Kucoba
mengulangi pertanyaan. Bibir kehitaman di antara kumis serta jenggot lebat
orang itu tak bergerak. Agaknya ia terbiasa bicara dengan mata, tapi pandangan
bengisnya tertuju kepada orang di belakangku.
“Nama tak punya arti di sini, Inspektur,” Dirk
menggerutu dari balik punggungku. “Ia bisa bernama Rakhim, Wasid, atau Ismail.
Yang jelas, ia dan gerombolannya nyaris merobek perut Hendriek, minggu sore di
pasar. Sayang, hanya ia yang tertangkap.”
“Lalu yang di belakang itu?” aku melangkah ke
ruang jaga. Dari tempat itu terlihat beberapa kamar tahanan berukuran lebih
kecil.
“Pencopet biasa. Minggu depan kulepas.”
“Jadi sudah tiga hari orang tarekat itu di sini?
Apakah rantai diperlukan di dalam sel? Mengapa pula pipinya memar?” tanyaku.
“Ia menyerang saat pintu kubuka. Terpaksa popor
bedil bicara. Baru kemarin rantai kupasang. Betul, Usep?” Dirk menoleh kepada
seorang opas berkulit cokelat yang sedang meletakkan secangkir kopi untukku.
“Sumuhun, Tuan,” Usep memandang Dirk dan aku
sekilas sebelum kembali ke dapur.
Aku menghela napas. “Orang tarekat harus
didekati secara halus. Sekarang ia telanjur di sini. Hanya ada dua pilihan: ia
pindah ke penjara kabupaten secepatnya, atau penjagaan tempat ini diperkuat,”
kutarik sebatang cerutu dari saku jas seraya mengempaskan badan ke atas sofa.
“Telah kubaca semua arsip. Kota-kota di daerah
ini sejak dahulu bergiliran berontak,” kuloloskan asap cerutu. “Ciri
pemberontakannya khas, bersifat spiritual. Mulai dari kerusuhan di Cikandi
Udik, Kolelet, kasus Jayakusuma, serta tragedi dua tahun lalu, yaitu
pembantaian di Ciomas. Sasaran mereka bukan hanya militer, melainkan semua yang
mereka anggap kafir. Musuh Allah.“
“Kebetulan aku ikut membereskan sisa huru-hara
itu. Mereka mencincang pejabat Eropa, pangreh praja serta seluruh keluarga yang
hadir dalam Upacara Sedekah Bumi,“ Dirk meneguk kopinya. “Koran De
Locomotief pernah mengulas. Konon, semua kegilaan ini berkaitan dengan
Krakatau. Ledakan besar gunung itu lima tahun lalu mendatangkan gelombang
raksasa yang menyapu banyak desa, penyakit pes, serta ramalan kedatangan Imam
Mahdi, Ratu Adil yang konon akan membebaskan orang-orang ini dari tekanan
pemerintah Hindia.“
“Mereka terlalu miskin untuk memahami
perbaikan,“ aku menggeleng. “Kita perlu juru bicara, orang setempat yang bisa
menjelaskan bahwa 30 tahun terakhir ini kita telah menghapus banyak pajak,
bahkan meniadakan hukuman cambuk. Mengenai bencana Krakatau, bukankah kita
tidak alpa menyalurkan bantuan pangan, mengirim penggali kubur, serta
mendirikan pos kesehatan?“ kugigit cerutu agak lama. “Tetapi sungguh, popor
bedil itu berlebihan. Ia seorang pemimpin agama. Pikirkan murid-murid orang ini
di luar sana bila tahu pemimpin mereka dianiaya.“
“Mijn God!“ mendadak Dirk memukul meja,
membuat Usep yang berdiri di dekatku tersentak. “Engkau lama bertugas di Aceh,
Inspektur. Itu daerah para jantan. Aku berharap kedatanganmu membawa perubahan.
Janganlah menjadi perpanjangan tangan para birokrat liberal di Batavia, yang dengan
mudah termakan cerita picisan karya Multatuli atau siapa pun itu. Sungguh,
mereka yang duduk di kursi dewan bersama omong kosong tentang kemanusiaan itu
telah membuat kita menjadi tuan-tuan yang bingung dan lemah di sini. Di Ciomas,
anak perempuan Heer Jansen yang berusia empat tahun ditikam, lalu digantung
bersama kakak lelakinya. Ketika aku datang, wajah anak itu sudah menghitam,
dikerumuni lalat seperti kismis yang ditaburkan di atas selai stroberi. Dan
kita masih saja diminta menahan diri,“ sekali lagi Dirk menghantam meja,
“Sesungguhnya bukan cuma popor senapan. Aku ingin sekali jahanam di sana itu
ditembak tepat di kepala.“
“Kafir!“ tiba-tiba terdengar teriakan keras dari
sel. Dirk terlonjak menghampiri sumber suara.
“Oh, terganggu ocehanku? Kafir, eh? Tak
bertuhan?“ Dirk meraih tombak di sudut ruangan. “Dan kalian penggorok leher
wanita serta anak kecil, merasa bertuhan? Biar kuperlihatkan seperti apa orang
tak bertuhan itu!“
Dirk menyabetkan tombak berulang kali pada
terali sel sambil berteriak-teriak mirip orang kehilangan akal.
“Cukup, Hoofdagent!“ aku membentak. Dirk
menoleh. Napasnya naik-turun. Wajahnya seperti iblis. Ia membuang tombak, lalu
menarik botol wiski dari saku celana. Diteguknya beberapa kali sambil
mengibaskan tangan, mengusir beberapa agen polisi yang berkerumun mendengar
keributan.
“Sambil pulang, aku ingin melihat Cilegon di
malam hari. Mengenal rumah-rumah penting di sini,“ kuambil topi dan pistol,
pura-pura tak terpengaruh oleh kegilaan Dirk. “Besok kutemui asisten residen
dan jaksa, bicara pemindahan tahanan itu.“
“Kurasa mereka akan setuju. Nah, itu Agen Jaap.
Ia akan memandumu,“ Dirk yang sudah kembali tenang, membukakan pintu untukku.
“Tak usah,“ aku menggeleng. “Aku tak lama.“
“Baiklah,“ Dirk mengangkat bahu.
Pukul tujuh petang kunaiki kuda menuju kota.
Lampu-lampu gas di sekeliling alun-alun membuatku mudah mengamati segala
penjuru. Walau banyak warung masih buka, suasana keseluruhan cenderung sepi.
Seperti yang sempat dijelaskan Agen Jaap, rumah Asisten Residen Gubbels ada di
utara alunalun, sederet dengan kantor pos dan rumah Asisten Kontrolir Van
Rinsum. Aku ingin menengok ke sana. Seharusnya bisa langsung belok ke kanan,
melewati rumah jaksa serta ajun kolektor, lalu di ujung alunalun belok lagi ke
kiri, tapi jalan itu penuh lumpur.
Kuputuskan memutari alun-alun melewati rumah
bupati dan penjara besar yang rencananya akan kutengok esok hari. Aku sudah
tiba di muka masjid, siap mengarahkan kuda ke kanan ketika terdengar keributan
luar biasa dari selatan. Tak begitu jelas yang terjadi, tetapi banyak orang
lari membawa obor sambil berteriak-teriak. Para pemilik warung berhamburan
menyelamatkan dagangan. Di beberapa titik terlihat api memangsa atap rumah. Ada
letusan senapan disusul jeritan silih berganti.
Kuambil teropong. Segerombolan besar orang
dipimpin oleh beberapa sosok berbaju putih menghambur dengan tombak dan parang,
memasuki rumah-rumah pejabat, termasuk kediaman Patih Penna. Mereka menyeret
keluar dan menghantamkan aneka senjata ke tubuh penghuni rumah. Dari belakang
masjid, ratusan orang juga mulai menyerbu.
Tampaknya mereka masuk dari jalan kecil yang menghubungkan Desa Seneja dengan perumahan elite ini.
Tampaknya mereka masuk dari jalan kecil yang menghubungkan Desa Seneja dengan perumahan elite ini.
Salah seorang dari mereka berada sangat dekat
denganku. Kutarik revolver. Orang itu terjengkang, tapi ujung tombaknya sempat
hinggap di pinggangku. Para rekannya berseru mengacungkan parang. Ini
benar-benar perkara hidup-mati. Apakah tragedi Ciomas akan terulang? Kupacu
kuda ke tempat asal melalui jalan berlumpur. Sempat kuletupkan lagi revolver
dua kali sebelum tiba di kantor yang ternyata sudah berubah menjadi lautan api.
Beberapa agen polisi bergelimpangan tanpa nyawa di pelataran. Di pintu depan,
tubuh Dirk tergantung layu. Lidahnya terjulur. Sebuah pisau lengkung tertanam
di dada kirinya seperti cula badak.
“Simpan pistolmu, dan pergilah selagi bisa,
Tuan. Tangan Ratu Adil telah jatuh ke atas kota ini,“ terdengar suara yang
cukup kukenal, menyertai kokangan senapan.
“Usep?“ aku mengerutkan kening melihat opas yang
sore tadi mengantarkan kopi dengan ramah, kini berdiri beringas dengan Mauser
terarah kepadaku. Di belakangnya, tawanan berkopiah putih itu. Rantai di
tangannya sudah lenyap, berganti dengan parang.
Usep melemparkan tas perbekalan kepadaku, lalu
tanpa berkata lagi menepuk paha kudaku yang segera berjingkrak, melesat
meninggalkan tempat itu.
Jakarta,
2014
Hoofdagent: polisi senior.
Iksaka
Banu, penulis dan praktisi periklanan. Tinggal di Jakarta.
tulisan ini saya copas dari lakon hidup
About Unknown
This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Comments
Popular Posts
-
Hukum Acara perdata (Hukum perdata formil) adalah Peraturan hukum utk mempertahankan berlakunya hukum perdata materiil, terutama apab...
-
Cerpen Iksaka Banu ( Media Indonesia , 30 Maret 2014) …di dalam sana di atas tikar, aku segera tertidur dan tidak tahu apa mimpiku....
-
Huruf Arab Nama Huruf Latin Nama ا alif tidak dilambangkan tidak ...
-
MALAM itu tampak lebih kelam, suram, dan padam tidak seperti biasa. Bukan karena gelap dan dingin malam, tetapi karena wajahnya tertun...
.jpg)
Tidak ada komentar: